Kamis, 02 Juli 2015

PUP ( pendewasaan usia perkawinan )

Pengertian Pendewasaan Usia Perkawinan
Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) adalah upaya untuk meningkatkan usia pada perkawinan pertama saat mencapai usia minimal 20 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki.

Tujuan


program pendewasaan usia perkawinan adalah


memberikan

pengertian dan kesadaran kepada
remaja agar didalam merencanakan
keluarga, mereka dapat mempertimbangkan berbagai aspek berkaitan
dengan
kehidupan
berkeluarga,
kesiapan fisik, mental,
emosional,
pendidikan, sosial, ekonomi serta menentukan jumlah dan jarak kelahiran.

B. Perencanaan Keluarga

Perencanaan Keluarga merupakan

kerangka dari program pendewasaan

usia perkawinan. Kerangka ini terdiri dari tiga masa reproduksi, yaitu: masa menunda perkawinan dan kehamilan, masa menjarangkan kehamilan dan masa mencegah kehamilan. Kerangka tersebut dapat dilihat seperti bagan
dibawah ini:

BAGAN PERENCANAAN KELUARGA
20 th - 35 th
13
Direktorat Bina Ketahanan Remaja
Dibawah ini akan diuraikan ciri dan langkah-langkah yang diperlukan bagi remaja apabila memasuki ketiga masa reproduksi tersebut.
1. Masa Menunda Perkawinan dan Kehamilan
Salah satu prasyarat untuk menikah adalah kesiapan secara fisik, yang sangat menentukan adalah umur untuk melakukan pernikahan. Secara biologis, fisik manusia tumbuh berangsur-angsur sesuai dengan pertambahan usia.
Dalam masa reproduksi, usia di bawah 20 tahun adalah usia yang dianjurkan untuk menunda perkawinan dan kehamilan. Dalam usia ini seorang remaja masih dalam proses tumbuh kembang baik secara fisik maupun psikis. Proses pertumbuhan berakhir pada usia 20 tahun, dengan alasan ini maka dianjurkan perempuan menikah pada usia 20 tahun. Apabila perempuan menikah dibawah usia 20 tahun dapat mengakibatkan risiko kesakitan dan kematian yang timbul selama proses kehamilan dan persalinan, yaitu:
a. Risiko pada Proses Kehamilan
1) Keguguran (aborsi), yaitu berakhirnya proses kehamilan pada usia kurang dari 20 minggu.
2) Pre eklampsia, yaitu ketidakteraturan tekanan darah selama kehamilan dan Eklampsia, yaitu kejang pada kehamilan.
3) Infeksi, yaitu peradangan yang terjadi pada kehamilan.
4) Anemia, yaitu kurangnya kadar hemoglobin dalam darah.
5) Kanker rahim, yaitu kanker yang terdapat dalam rahim. Hal ini erat kaitannya dengan belum sempurnanya perkembangan dinding rahim.
6) Kematian bayi, yaitu bayi yang meninggal dalam usia kurang dari 1 tahun.
b. Risiko pada Proses Persalinan
1) Prematur, yaitu kelahiran bayi sebelum usia kehamilan 37 minggu.
2) Timbulnya kesulitan persalinan, yang dapat disebabkan karena faktor dari ibu, bayi dan proses persalinan.
3) BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah), yaitu bayi yang lahir dengan berat dibawah 2.500 gram.
14
Pegangan Kader tentang Bimbingan dan Pembinaan Keluarga Remaja
4) Kematian bayi, yaitu bayi yang meninggal dalam usia kurang dari 1 tahun
5) Kelainan bawaan, yaitu kelainan atau cacat yang terjadi sejak dalam proses kehamilan.
Perempuan yang menikah pada usia kurang dari 20 tahun dianjurkan untuk menunda kehamilannya sampai usianya minimal 20 tahun dengan menggunakan alat kontrasepsi. Kontrasepsi yang dianjurkan adalah Kondom, Pil, IUD, metode sederhana, implan dan suntikan.
2. Masa Menjarangkan Kehamilan
Pada masa ini usia isteri antara 20-35 tahun, merupakan periode yang paling baik untuk hamil dan melahirkan karena mempunyai risiko paling rendah bagi ibu dan anak. Jarak ideal untuk menjarangkan kehamilan adalah 5 tahun. Kontrasepsi yang dianjurkan adalah IUD, Suntikan, Pil, Implan dan metode sederhana.
3. Masa Mengakhiri Kehamilan
Masa mengakhiri kehamilan berada pada usia PUS diatas 35 tahun, sebab secara empirik diketahui melahirkan anak diatas usia 35 tahun banyak mengalami risiko medik. Kontrasepsi yang dianjurkan adalah Steril, IUD, Implan, Suntikan, Metode Sederhana dan Pil.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan penggunaan kontrasepsi berdasarkan fase reproduksi wanita seperti tabel dibawah ini :

Fase Menunda
Kehamilan
< 20 tahun Fase Menjarangkan
Kehamilan
20-35 tahun Fase Tidak Hamil lagi
>35 tahun
• Kondom
• Pil
• IUD
• Sederhana
• Implan
• Suntikan • IUD
• Suntikan
• Pil
• Implan
• Sederhana • Steril
• IUD
• Implan
• Suntikan
• Sederhana
• Pil

15
Direktorat Bina Ketahanan Remaja
C. Kesiapan Ekonomi Keluarga
Salah satu faktor ketidakharmonisan keluarga pada umumnya disebabkan oleh masalah ekonomi keluarga, oleh karena itu dalam perencanaan kehidupan berkeluarga perlu dipersiapkan kemapanan ekonomi (mempunyai pekerjaan tetap).
D. Kematangan Psikologis Remaja
Kematangan psikologis remaja diperlukan dalam penyiapan kehidupan berkeluarga agar dapat :
1. Menerima keadaan fisik dirinya sendiri dan menggunakan tubuhnya secara efektif
2. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang-orang dewasa lainnya
E. Kematangan Sosial Remaja
Kematangan sosial remaja diperlukan dalam penyiapan kehidupan berkeluarga agar dapat :
1. Memahami dan menyesuaikan diri, baik dalam lingkungan yang baru maupun antara lawan jenis
2. Menjalankan peran sosial dalam lingkungan masyarakat
3. Mempraktekkan perilaku sosial yang bertanggungjawab

Jumat, 26 Juni 2015

50 EFEK GANJA

50 Efek Ganja : Psikologis, Kesehatan, dan Sosial

Advertisement
ganjaGanja atau cannabis, dan biasa disebut juga dengan marijuana (mariyuana) merupakan salah satu jenis dedaunan yang tumbuh subur pada iklim tropis, seperti Indonesia. Ganja sendiri merupakan suatu zat psikotropika yang bersifat aditif. Di Indonesia, penggunaan ganja sangat dilarang, walaupun di beberapa Negara maju, ganja sudah dilegalkan, dan dapat dibuat sebagai pengobatan.
Ganja sendiri memiliki bentuk daun yang mirip dengan daun singkong, yang berbentuk seperti jari. Ganja biasa dikonsumsi sebagai ‘ bahan ‘ untuk menghisap. Sebelum dapat dihisap, ganja harus dikeringkan terlebih dahulu, lalu diolah, dengan pemrosesan yang mirip seperti membuat rokok.
Ganja sendiri memiliki banyak efek bagi penggunanya. Jenis narkoba satu ini memiliki efek yang dapat muncul dari berbagai dimensi, dari dimensi psikologis dan neurologis, dimensi kesehatan fisik dan organ tubuh, serta dimensi sosial.

A. Dimensi Psikologis dan Neurologis

Efek ganja sama dengan bahaya narkoba jenis lainnya yaitu berdampak pada efek psikologis dan neurologis. Dimensi psikologis dan neurologis memiliki kaitan yang sangat erat. Banyak efek psikologis yang dialami oleh pecandu ganja berasal dari efek neurologis yang disebabkan oleh ganja, terutama kandungan THC ( tetrahydrocannabinol ). Berikut ini efek – efeknya :
  1. Merasa terbang dan ‘ fly ‘. Dengan konsumsi ganja, para pecandu biasanya akan merasa ringan dan fly, seolah – olah segala beban hidupnya hilang dan lenyap begitu saja. Kondisi ini yang membahayakan, karena akan menimbulkan efek ‘ nagih ‘
  2. Mengalami delusi dan halusinasi. Delusi dan halusinasi merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu penglihatan akan suatu objek yang seharusnya tidak ada atau tidak muncul. Hal ini merupakan salah satu gejala dari pasien skizofrenia, yang ternyata juga merupakan efek dari konsumsi ganja.
  3. Depresi. Fase depresi yang berlebihan akan muncul ketika pecandu ganja sudah nge – fly. Ketika kondisi fly tersebut hilang, maka akan muncul fase depresi yang berlebihan, sehingga pada akhirnya pecandu akan berusaha mencari barang haram tersebut untuk menghilangkan depresi. Hal ini akan terjadi secara terus menerus dengan siklus yang sama, yang membuat pecandu akan terus mencari ganja.
  4. Gangguan kecemasan. Gangguan kecemasan atau anxiety disorder juga dapat muncul karena pengaruh dari konsumsi ganja. Dengan efek menyerang bagian neuron dan saraf, maka gangguan seperti ini akan mudah terjadi.
  5. Berpengaruh ke pemrosesan informasi dan berpikir. Konsumsi ganja pada masa pertumbuhan akan menghambat perkembangan proses berpikir dan proses mengingat pada seseorang.
  6. Mengigau. Salah satu efek dari ganja adalah mengigau. Hal ini mirip dengan efek dari mengkonsumsi alcohol, yaitu mabuk, yang membuat si pecandu sering meracau dan mengigau tidak jelas bahkan ketika sedang tidak tidur.
  7. Disfungsi Kognitif. Merupakan suatu kerusakan pada fungsi kognitif seseorang yang disebabkan oleh penggunaan ganja. Hal ini biasa dikenal dengan istilah amotivational syndrome, yang memiliki gejala penurunan dalam kemampuan berpikir.

B. Dimensi Kesehatan Fisik dan Organ Tubuh

Tentunya mengkonsumsi benda – benda yang masuk ke dalam tubuh akan berpengaruh terhadap kondisi fisik tubuh. Tak terkecuali dengan konsumsi ganja. Konsumsi ganja akan berpengaruh pada kesehatan fisik dan kesehatan organ tubuh, antara lain :
  1. Gangguan pernapasan. Mengkonsumsi 3 – 4 linting rokok ganja memiliki efek yang hampir sama dengan merokok 20 linting rokok tembakau. Hal ini tentu saja akan sangat berpengaruh bagi pernapasan, seperti :
    • Gejala asma
    • Rusaknya paru – paru
    • Nafas pendek
    • Sering batuk dan sesak nafas
    • Radang paru – paru
    • Kanker paru – paru
  2. Gangguan reproduksi. Sama seperti konsumsi rokok tembakau, ganja juga memiliki efek buruk terhadap sistem reproduksi manusia. paling tidak, ganja dapat meningkatkan faktor resiko :
    • Kanker rahim
    • Kanker serviks
    • Kanker prostat
    • Kanker ovarium
    • Siklus menstruasi tidak normal
    • Impotensi
    • Gangguan kehamilan
  3. Gangguan pencernaan. Sama halnya dengan bahaya minuman keras, ganja dapat memberikan efek yang sangat buruk bagi organ – organ pencernaan tubuh, seperti hati , usus, ginjal, dan lambung. Dapat menyebabkan :
    • Radang usus, lambung, hati dan ginjal
    • Gagal ginjal
    • Batu ginjal
    • Hepatitis
  4. Kanker. Ganja memiliki sifat karsinogenik, yang berarti dapat meningkatkan faktor resiko terjadinya kanker pada organ tubuh manusia. Beberapa jenis kanker yang dapat muncul, antara lain :
    • Kanker kulit
    • Kanker lambung
    • Kanker hati
    • Kanker kelenjar getah bening
    • Kanker otak
    • Kanker paru – paru
  5. Naiknya detak jantung. Konsumsi ganja akan berpengaruh pada peredaran darah dalam tubuh. Hal ini dapat menyebabkan naiknya detak jantung secara drastic, sehingga akan menimbulkan efek seperti :
    • Ledakan semangat ( meledak – ledak )
    • Serangan jantung
    • Degup jantung bertambah cepat.
  6. Mata memerah. Sama seperti efek sabu sabu, Mata memerah merupakan efek dari naiknya arus peredaran darah akibat ganja. Hal ini dapat menimbulkan pecahnya pembuluh darah di sekitar mata, sehingga mata akan terlihat sangat merah.
  7. Penurunan imunitas tubuh. Biasanya, menurunnya imunitas tubuh disebabkan oleh kurangnya atau hilangnya nafsu makan pada pecandu ganja. Hal ini akan menyebabkan pecandu ganja sangat rentan terserang berbagai penyakit yang menyerang imunitas tubuh.

C. Dimensi Sosial

Tidak hanya dilihat dari segi kesehatan dan psikologis saja, konsumsi ganja akan memiliki efek yang sangat besar terhadap kehidupan sosial dari pelaku. Berikut ini beberapa efek ganja dari segi sosial :
  1. Meningkatnya kriminalitas. Kriminalitas dapat disebabkan oleh dua hal :
    • Efek psikologis dari ganja, seperti halusinasi, depresi, fly, dan lainnya
    • Hal yang dilakukan untuk mendapatkan uang dengan mudah untuk membeli paket ganja.
  2. Dijauhi dari lingkungan sosial. Seorang pecandu ganja yang sudah ketahuan, maka akan dijauhi oleh lingkungan sosialnya. Banyak orang menganggap pecandu ganja akan memberikan efek buruk bagi mereka yang tbukan pecandu ganja, sehingga akan menjauhi pecandu ganja.
  3. Fungsi sosial yang menurun. Selain itu, fungsi sosial dari pecandu narkoba akan menurun. Mereka sudah lupa cara untuk berinteraksi sosial dengan baik, dan malahan akan menjadi penggangu bagi lingkungan sosialnya.
Ganja merupakan salah satu kategori zat aditif pada makanan, Efek ganja bagi kesehatan, psikologis dan sosial memang cukup mengkhawatirkan oleh karenanya penggunaannya dilarang di Indonesia.

Kamis, 25 Juni 2015

TRIAD-KRR

TRIAD KRR

TRIAD KRR adalah tiga resiko yang dihadapi oleh remaja, yaitu Seksualitas, HIV/ AIDS dan Napza.

KRR merupakan kepanjangan dari Kesehatan Reproduksi Remaja.

Seksualitas adalah segala sesuatu yang menyangkut hidup manusia sebagai makhluk seksual, yaitu emosi, perasaan, kepribadian, sikap yang berkaitan dengan perilaku seksual, hubungan seksual dan orientasi seksual.

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia. AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yaitu sekumpulan gejala yang timbul akibat melemahnya sistem kekebalan tubuh karena terinfeksi virus HIV. IMS merupakan kepanjangan dari infeksi menular seksual yaitu infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual.

NAPZA adalah singkatan dari Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan zat adiktif lainnya. kata lain yang sering dipakai adalah Narkoba. Napza adalah zat-zat kimiawi yang masukkan ke dalam tubuh manusia, baik secara oral (melalui mulut) dihirup (melalui hidung) dan disuntik.
INFORMASI LAIN SEPUTAR PIK-KRR


 Kesehatan Reproduksi Remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem reproduksi (fungsi, komponen dan proses) yang dimiliki oleh remaja baik secara fisik, mental dan sosial.
TRIAD KRR adalah tiga resiko yang dihadapi oleh remaja, yaitu Seksualitas, HIV/ AIDS dan Napza.
Seksualitas adalah segala sesuatu yang menyangkut sikap dan perilaku seksual  maupun orientasi seksual. 
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Sedangkan pengertian HIV adalah virus yang menurunkan sistem kekebalan tubuh manusia. 
 AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome. Sedangkan pengertian AIDS adalah kumpulan dari berbagai gejala penyakit akibat turunnya sistem kekebalan tubuh individu karena HIV.
Napza adalah singkatan dari Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya. Sedangkan pengertian Napza adalah zat-zat kimiawi yang dimasukkan kedalam tubuh manusia baik secara oral (melalui mulut), dihirup (melalui hidung) atau disuntik.
Program KRR adalah program untuk membantu remaja agar TEGAR dari resiko TRIAD KRR, dan memiliki status sistem reproduksi yang sehat melalui peningkatan komitmen, pemberian informasi, pelayanan konseling, rujukan medis, dan pendidikan kecakapan hidup.
Remaja adalah penduduk laki-laki atau perempuan yang berusia 10-19 tahun dan belum menikah (WHO).
Pendidik Sebaya KRR adalah orang yang menjadi narasumber bagi kelompok remaja sebayanya yang telah mengikuti pelatihan Pendidik Sebaya KRR.
Konselor Sebaya KRR adalah orang yang dapat memberikan konseling KRR bagi kelompok remaja sebayanya yang telah mengikuti pelatihan konseling KRR.
Pemberian informasi KRR adalah suatu proses penyampaian informasi KRR oleh seorang Pendidik Sebaya yang membantu remaja sebayanya dalam memahami kesehatan reproduksi.
 Konseling KRR adalah suatu proses tatap muka dimana seorang Konselor Sebaya yang membantu remaja sebayanya untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi.




TERIMA KASIH